Rabu, 23 Januari 2013

Cinta Tanpa Pamrih?

Cinta tanpa pamrih. Banyak yang bilang, cinta seperti itu ada pada cinta ibu kepada anaknya. Benarkah? Apakah memang sudah tepat dan sesuai porsi maupun peletakannya?
Sebagai ibu dari tiga orang anak, saya akan memberikan pengakuan.

Ya, saya amat sangat mencintai mereka. Saya siap mempertaruhkan nyawa, setiap kali melahirkan satu demi satu anak saya. Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti bahwa cinta saya tanpa pamrih?
Siang penuh lelah dan malam tanpa jengah, saya jaga dan rawat mereka, dari bayi merah mungil sampai menjelma menjadi bocah. Menyusui setiap saat mereka menginginkannya, mengganti popoknya entah yang kesekian kalinya dalam sehari, menggendong dan meninabobokannya di setiap malam yang panjang, dan betapa banyak yang tak kan bisa disebutkan satu persatu apa yang telah dilakukan oleh seorang ibu. Bukankah semua itu sudah cukup menjadi bukti akan cinta saya yang tanpa pamrih?

Hingga, lalu saya sadari, bahwa mungkin saya salah selama ini.
Tak ada raut wajah kecewa, sebal, apalagi marah, ketika mereka berulah, dulu. Ya, itu dulu. Kala mereka masih 100% tergantung kepada saya, ibunya. Kala mereka murni 100% di bawah kontrol saya. Kala mereka belum mempunyai kemandirian untuk menyuarakan keinginan mereka dengan kuat.

Cinta tanpa pamrih, masihkah itu menjadi jargon, ketika anak sudah pandai memilih dan saya, ibunya, malah berdalih? Ah, banyak peristiwa berkelebat dalam putaran memori saya. Terbayang Syifa dan juga Farah. Raut muka kecewa mereka, sebal, marah, tapi juga takut. Tangisan keras yang membuat emosi makin tersulut, atau terkadang hanya sesenggukan halus di sela isak tangisnya. Aaah... :( Dan berada di pihak manakah saya? Sebagai kawan ataukah lawan? Sebagai motivator ataukah komentator, bahkan kritikus? Sebagai ibu ataukah bos?

Ternyata tak mudah mempertahankan cinta tanpa pamrih itu, apalagi ketika saya mulai berharap dan meminta balasan, entah apa pun sebutannya, kepada mereka, anak-anak saya. Sudah umum menjadi do'a semua orang tua, ingin agar anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan bermanfaat bagi orang lain. Adanya nilai-nilai umum di masyarakat yang seolah menuntut untuk dipenuhi, tanpa sadar telah meracuni pikiran saya sebagai ibu. Sebut saja, anak harus pandai di sekolah, anak harus rajin, mandiri, bisa membaca menulis di usia dini, tidak cengeng, pemberani alias bukan penakut, anak penurut, dan lain-lain.  Begitu banyak label yang seolah dipaksakan harus dipenuhi oleh anak-anak kita. Dan ketika pencapaian anak tidak sesuai harapan, apa yang terjadi? Kecewa, marah, sebal, uring-uringan, atau ngomel-ngomelkah kita? Sepertinya, meski saya berusaha untuk tidak melakukannya, saya sudah pernah mengekspresikan semuanya itu, di depan maupun di belakang anak-anak saya.

Seringkali saya melupakan satu hal penting, yaitu proses. Proses amat sangat panjang dan tidak instan dalam mendidik anak. Proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses yang berpeluh dan tak boleh jenuh. Dan faktor utama pendukungnya adalah keteladanan. Yup, keteladanan dari orang tua bagi anak-anaknya. Apa yang kita inginkan bagi mereka, tentu saja yang terbaik bagi mereka (ingat, menurut kita ya, jadi tidak semua pilihan kita adalah baik bagi mereka). Apakah kita sudah mencontohkannya?

Seharusnya anak diajak dan dibiasakan, bukannya hanya menyuruh anak, untuk sholat misalnya. Seharusnya diajak muroja'ah rutin bersama-sama, tidak hanya diminta untuk hafal sekian surah, dan hanya menagih saja. Akan menjadi konflik, ketika orang tua melewatkan proses. Atau...jangan-jangan orang tua hanya bisa menuntut anak-anaknya tanpa mereka melakukan hal yang sama? Kalau seperti itu, berarti kita sudah menjadi orang tua yg melakukan kecurangan dan juga menjadi diktator. Dan kemanakah cinta tanpa pamrih itu?

Betapa saya masih saja mudah lupa, bahwa anak-anak adalah bukan hak milik saya. Mereka adalah titipan Tuhan. Mereka memiliki dirinya sendiri, jalan hidup dan takdirnya sendiri. Sebagai orang tua, kita tidak bisa selamanya campur tangan dan memaksakan semua hal harus sesuai dengan keinginan kita. Tugas orang tua hanyalah merawat, mendidik, dan yang terpenting, memberi teladan yang baik. Semua itu sebagai ikhtiar orang tua dalam proses perkembangan anak agar mereka bisa survive menuju gerbang kemandirian anti galau. Menjadi generasi yang tangguh dengan modal iman dan takwa serta kecerdasan emosional yang stabil.

reblog from http://tikasemangat.blogspot.com

Selasa, 27 November 2012

Membuktikan Cinta Bunda

Memiliki tiga orang anak yang hanya terpaut beberapa tahun, seringkali membuat emosi mudah tersulut. Seringkali terjadi terutama di saat-saat saya merasa capek, entah capek fisik atau capek hati. Ketika saya ingin anak-anak menuruti perintah-perintah saya, mereka malah tidak menghiraukannya. Syifa, 7 tahun, sudah bukan balita lagi. Dia sudah memiliki keinginan yang kuat terhadap sesuatu, pun sudah bisa menolak sesuatu yang tidak diinginkannya. Begitu juga Farah, 5 tahun, yang wataknya lebih keras daripada Syifa.

Ketika beberapa tugas maupun perintah seperti harus bangun lebih pagi, makan lebih cepat, merapikan buku-buku bacaannya, dan lain-lain, tidak segera mereka lakukan ketika saya mengingatkannya, saya mulai melotot. Kemudian, ketika Syifa maupun Farah malah makin bergerak dengan malas-malasan, memasang muka males dan ogah, saya mulai mengoceh, mendampratnya. Terkaget-kagetlah saya ketika mendapati sorot mata Syifa atau Farah yang tampak terbersit kebencian dan kemarahan itu. Apakah saya membenci Syifa dan Farah? Tentu saja tidak. Ya, telah terjadi kesalahpahaman antara ibu dan anak.

Saya mencintai Syifa dan Farah, hal yang selalu saya katakan saat mencium atau memeluk mereka, " I love u Syifa, I love u Farah." Akan tetapi, sayangnya bisa jadi saya selama ini salah dalam mengkomunikasikan rasa sayang saya. Gara-gara sikap saya yang emosional dan perkataan saya yang kasar, bahkan cubitan dan pukulan yang bisa jadi saya lakukan, anak tak menangkap adanya suasana kasih sayang.

Rasulullah mengibaratkan anak seperti kertas putih bersih, tergantung pada orang tuanya, mau ditulis dengan tinta warna merah, hijau, atau kuning. Orang tua biasanya terlalu cepat memvonis nakal, malas, bandel atau bahkan durhaka terhadap anak-anaknya sendiri, padahal merekalah yang paling dominan membentuk karekter dan kepribadiannya. Kalaupun itu benar, bukankah para orang tua yang lebih bertanggung jawab atas sifat-sifat buruk itu?

Mengapa Harus Lembut?
Seringkali orang tua menganggap bahwa untuk meluruskan sikap anak yang kurang baik harus ditempuh cara-cara keras, seperti menghukum, dan berkata-kata keras dan kasar. Cara seperti itu tak mungkin berhasil, malah sebaliknya dapat menimbulkan dendam pada diri anak. Dalam Al-Qur'an Allah SWT telah mengingatkan secara khusus kepada Muhammad saw agar meninggalkan cara-cara kasar, sebab kekasaran bukan mendekatkan ummat kepadnya, tapi justru akan menjauhkannya. Allah SWT berfirman :

Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan (QS. Ali Imran:159)

Ayat di atas juga berlaku bagi kita orang tua dalam mendidik anak-anak. Jika ingin anak-anak lebih mendekat, maka jalan yang harus ditempuh adalah mendidik dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar, meski dalam keadaan marah sekalipun.

Menawarkan Kebaikan
"Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi) yang lebih baik bila diberi senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang." tulis Dr. Bursteln dalam buku Dr. Bursteln's Book on Children. Orang tua harus tetap menunjukkan kasih sayang walau di saat anak sedang melakukan kesalahan. Justru saat itulah waktu yang tepat untuk menunjukkan rasa cinta kasih. Sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa ia akan sangat menghargai orang lain yang menawarkan kebaikan hati kepadanya. Hal ini menciptakan perasaan wajib untuk membalas kebaikan orang tersebut.

Pahami Alasan Anak
Seringkali orang tua menginginkan anak bisa patuh seketika. Salah sedikit saja, anak bisa diomel-omeli panjang lebar. Ya, saya pun pernah melakukannya. Padahal kesalahan bagi anak-anak itu wajar, karena mereka masih dalam proses belajar. Hal yang harus diketahui adalah bahwa semua anak mempunyai harga diri sebagaimana orang dewasa. Mereka tidak ingin harga dirinya diinjak-injak, walaupun oleh orang tuanya sendiri.Mereka tetap ingin menjaga harga dirinya, walaupun harus dengan cara melawan. Inilah hakekat manusia, tidak berlaku hanya pada orang dewasa saja lho.

Bagaimana agar kita memahami anak-anak? Sebaiknya kita harus melihat dari sudut pandang mereka, bukan dari sudut pandang kita orang dewasa. Dunia anak-anak dan orang dewasa jelas berbeda, salah dan benar mestinya diukur dari dunia mereka dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kejiwaannya.

Alasan dibalik perbuatan Syifa dan Farah, pasti ada menurut versi mereka. Tak usah menjelek-jelekkan anak dengan tuduhan malas, nakal, bandel, tak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka sendiripun sudah tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang, sambil tetap memberi senyum.


Menahan Emosi?
Kekasaran kata-kata dan kebiasaan marah, bisa terjadi karena orang tua tidak mampu menahan emosi. Padahal ketika berada dalam kondisi jiwa yang stabil, tidak terlalu sulit untuk bisa bersabar dan berlemah lembut. Sayangnya, rutinitas sebagai ibu rumah tangga, ataupun ibu bekerja bisa memperlemah kondisi kejiwaan ibu, sehingga menjadi emosional dan cepat marah. Konflik antara suami istri juga bisa menambah keadaan menjadi lebih panas. Banyak kaum ibu yang tak memiliki penyaluran yang baik untuk meredam emosinya, sehingga menjadikan anak sebagai sasaran pelampiasan emosi. Ada pula ayah ibu yang berperilaku kasar karena memang sudah watak dan karakter dasar yang membentuk kebiasaan hidupnya.

Karakter yang keras, kasar, dan emosional tersebut bisa jadi akan merusak pola pendidikan anak. Itu sebabnya, kita sebagai orang tua seharusnyalah sering-sering instropeksi diri dan berusaha merubah karakter yang merugikan tadi, sebelum menularkannya kepada anak-anak.


Senin, 22 Oktober 2012

Teknik Komunikasi Dengan Anak

Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan si buah hati di rumah? Apakah berhadapan dengan satu, dua, atau mungkin tiga anak? Saat kita sedang bersantai atau justru saat kita sedang terburu-buru? Simak saja beberapa poin penting tentang teknik komunikasi berikut ini :

  • Berbicara dengan terburu-buru. Seringkali kita berbicara dengan terburu-buru, bahkan melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru. Terutama di pagi hari saat ayah dan ibu harus berangkat bekerja. Sehingga, kalaupun berkomunikasi dengan anak pasti hanya menyuruh dan menyuruh. Satu arah saja. Padahal, yang namanya komunikasi itu dua arah bukan? *tertohok :(
  • Tidak mengenal diri sendiri. Saya mencoba menjabarkan tentang diri saya sendiri, heemm ternyata memang lebih mudah untuk menemukan kekurangan daripada kelebihannya. Hal ini karena tanpa disadari, sedari kecil kita dibiasakan melihat atau mendengar yang jelek-jelek, misalnya "Kamu nakal sekali.", "Aduh, cerewet banget.", "Anak perempuan kok males.", dst, dsb, dkk. Dengan kita mengenali diri sendiri maka rasa percaya diri akan meningkat, jangan lupa kenali juga anak dan pasangan, dari situlah komunikasi akan terbuka. Temukan kelebihan-kelebihan diri sendiri, anak, dan juga pasangan. Usahakan untuk lebih sering mengemukakan tentang kelebihannya daripada kekurangannya.
  • Setiap pribadi itu unik dan berbeda. Ini sangat penting. Tiap diri kita mempunyai harga diri, bahkan anak kecil sekalipun! Bagaimana kalau diri kita dibanding-bandingkan dengan orang lain? Pasti terasa menyebalkan. Teringat dahulu sewaktu kecil, saya dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang manis dan tidak nakal (kata ibu saya), duh sebelnya sampai ubun-ubun :( Dalam jangka panjang, anak yang sering dibanding-bandingkan akan menjadi anak yang krisis identitas atau malah over kompetitif karena hal itu membuatnya tidak bisa mengenali dirinya sendiri.
  • Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Di sini biasanya sering terjadi konlik antara orang tua dan anak. Misalnya, orang tua ingin agar anaknya lekas tidur karena besok ada acara keluarga, sementara si anak belum mengantuk dan masih ingin bermain-main. Bukankah memang bermain adalah kebutuhan seorang anak? Tentu saja kita tidak bisa memaksakan keinginan kita begitu saja. Mungkin butuh penjelasan pada anak atau negosiasi, sehingga anak tidak merasa "dipaksa".
  • Bedakan masalah siapa. Misalnya, anak menelepon ke rumah karena PR-nya tertinggal. Apakah lalu ibu mengantarkan PR tersebut ke sekolah atau tidak? Pahami ini masalah siapa, kenapa anak bisa ketinggalan buku PR-nya? Jika kita mengantarkan bukunya, sama saja kita mengajarkan tanggung jawab karena PR kan berarti tanggung jawab anak, bukan kita. Bukan berarti jahat loh ya, tapi anak harus belajar mandiri dan bisa mengambil keputusan sendiri, karena kita tidak akan hidup selamanya untuk mendampingi anak.
  • Sampaikan pesan SAYA, bukan KAMU. Misalnya, anak tidak mau makan, biasanya yang terucap adalah, " Kamu makan dong, nanti sakit, lapar, bla..bla..blaa". Kita ubah kalimatnya menjadi, " Ibu sedih/kesal/sebal deh, kalau kamu nggak makan.". Dengan perubahan susunan kalimat ini, anak tidak merasa disalahkan atas kelakuannya, tapi akan tahu bahwa tindakan tidak mau makannya ini membuat ibu sedih/kesal/sebal.
  • Dengarkan anak secara aktif. Hentikan segala aktifitas lainnya ketika anak berbicara dan minta untuk didengarkan. Perhatikan dia dengan seksama, beri dia perhatian penuh, dengan bahasa tubuh yang tulus. Semoga kita bisa menjadi ibu yang juga bisa menjadi teman curhat anak-anaknya, Amin.
  • Baca bahasa tubuh anak. Kalau anak sedang lari-lari lalu terjatuh, yang umum orang tua suka kelepasan bicara, "Tuh kan, ibu bilang apa? Makanya jangan lari-lari!". Padahal bahasa tubuh anak sudah menunjukkan bahwa ia kesakitan, butuh dipeluk, dan ditenangkan ya, bukan dimarahi :) Bahasa tubuh seseorang tidak bisa bohong lho, karena terbentuk dari perasaan seseorang terhadap sesuatu. Kata ibu Elly Risman, "Baca bahasa tubuh anak dulu, maka kamu bisa memahami/mendengarkan perasaannya." Ada 12 gaya bahasa populer turun-temurun yang kerap dilontarkan orang tua pada anaknya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Di bawah ini contoh situasinya ketika  anak sedang lari-larian terus terjatuh. Nah, yuk kita contreng mana saja yang biasa kita lakukan ya, hihihi....
             Memerintah, "Jangan lari-larian dong!"
             Menyalahkan, "Tuh kan jatuh, lagian nggak bisa diem sih."
             Meremehkan, "Masa gitu aja nangis?"
             Membandingkan, "Tuh lihat, si A nggak nangis lho!"
             Mencap/memberikan label, "Kamu nakal sih."
             Megancam, "Nangisnya sudah dong, nanti ibu panggilin dokter nih biar disuntik."
             Menasehati, "Makanya, omongan orang tua itu didengerin."
             Membohongi, "Dipakein obat ini nggak sakit kok."
             Menghibur, "Nggak apa-apa kok, besok juga sembuh lukanya."
             Mengkritik, "Kamu pakai sendalnya yang itu sih, kan licin pantesan jatuh."
             Menyindir, "Ini akibatnya kalau nggak dengerin orang tua, kualat kan."
             Menganalisa, "Gimana nanti kalau sudah gede coba, pasti susah dibilangin."

Nah, siapa bilang ngomong itu gampang? Yuk kita ubah pelan-pelan demi kebaikan si kecil. ^_^





Kamis, 04 Oktober 2012

Ayah Juga Lupa

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang perpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan, ayah!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"

Kemudian semua itu terulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih hati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar dengan gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. "Kau mau apa?" semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya.  Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca - ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu.  Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah-olah sebuah ritual: "Dia cuma seorang anak kecil-anak lelaki kecil!"

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

W. Livingstone Larned





Rabu, 26 September 2012

Tiga Tipe Anak

Syifa, anak pertama saya memang termasuk anak yang mandiri sejak kecil. Mungkin karena di usianya yang 2 tahun, dia sudah mempunyai seorang adik. Ketika berumur 4 tahun, Syifa masuk Taman Kanak-Kanak yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Hari pertama dia sekolah, saya hanya mengantarkannya saja, menitipkannya pada Ibu Gurunya, dan lalu meneruskan perjalanan ke kantor. Ya, Syifa tidak ditunggui di sekolah, sedangkan banyak di antara teman-temannya yang menangis atau merengek minta ditunggui oleh ibunya.

Lain Syifa, lain pula Farah, anak kedua saya. Kalau Farah, hari pertama dia bersekolah masih harus ditunggui. Lama kelamaan baru bisa ditinggal, jadi setiap hari akhirnya hanya antar jemput saja. Memang tidak langsung prosesnya, saya juga selalu menyemangatinya, meyakinkannya bahwa Farah anak pemberani dan mandiri. Ada juga anak yang benar-benar tidak mau jauh dari orang tuanya, sebut saja Fira, sehingga di sekolah dia maunya ditunggui, bahkan sedikit-sedikit dia mengintip keluar kelas untuk mengecek keberadaan ibunya :).

Perilaku Syifa, Farah, dan Fira sudah cukup mewakili gambaran karakter anak pada umumnya. Syifa termasuk anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan suka mencoba sesuatu yang baru. Anak-anak seperti ini biasanya disebut sebagai anak yang "mudah". Sedangkan Farah tidak seberani Syifa, untuk beradaptasi dia membutuhkan  waktu. Model yang seperti ini disebut anak yang "perlu waktu pemanasan". Sebaliknya yang masih sangat takut seperti Fira diistilahkan sebagai anak yang "sulit".

Anak yang Mudah
Anak-anak golongan ini biasanya penampilannya penuh keberanian dan terbuka. Tampil dan berbicara apa adanya. Mudah bergaul, lincah, serta banyak bicara. Bahkan beberapa dari anak-anak ini tergolong sangat aktif. Tetapi ada kelemahan pula pada anak-anak tipe ini. Karena saking mudahnya beradaptasi, jadi terlalu sering berpindah tangan pengasuh. Ini buruk akibatnya bagi dirinya sendiri. Seminggu tinggal bersama nenek, baru pulang sebentar dijemput tantenya untuk menginap di sana selama beberapa hari juga.

Setiap orang tak pernah punya pola asuh yang sama. Batasan, larangan, cara memerintah, cara membujuk hingga nilai-nilai yang disampaikan tidak akan pernah sama. Semua itu hanya akan membuat anak bingung hingga akhirnya mereka jadi sulit diberi pengertian. Selain itu. karena sifat anak-anak ini yang suka mencoba hal baru, orang tua harus waspada terhadap barang-barang yang berbahaya.

Anak yang Perlu Pemanasan
Tidak terlalu berani, tidak pula penakut, yang jelas ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Setelah beberapa waktu tersebut, mereka akan menjadi percaya diri dan juga bisa begitu berani seperti teman-temannya yang "mudah". Dengan orang yang belum dikenal mereka hanya diam walaupun bukan berarti penakut. Tetapi setelah kenal mereka bisa saja segera akrab. Anak-anak ini perlu dorongan semangat dan motivasi dari orang tuanya.

Tindakan orang tua yang lantas memaksa anaknya untuk berani dan "mudah" bukanlah pemecahan masalah yang baik.Biasanya orang tua mengomel, menyindir, bahkan mengancam, ketika anaknya masih terlihat ragu-ragu atau takut.

Anak yang Sulit
Anak ini sering membuat gemas, jengkel, sekaligus malu orang tuanya. Bayangkan, kemanapun orang tua pergi, ia membuntut, memegangi baju ibunya terus-terusan. Bila ada orang menyapa, ia menyembunyikan wajahnya di sela-sela baju ibunya. Padahal di rumah dia adalah anak yang lucu, tingkahnya jenaka, cerewet banyak bercerita. Tapi ketika tiba di sekolah, ia berubah menjadi anak penakut, pasif, dan pemalu.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang tua terhadap anak seperti ini adalah bersabar menunggu waktu. Hanya waktu yang bisa menyelesaikannya. Tidak ada gunanya capek-capek mengomel, menyindir, ataupun ngotot memaksanya menjadi berani. Percuma, bikin sakit hati saja. Bahkan omelan, ejekan, dan hinaan, dalam banyak kasus hanya akan menghilangkan rasa percaya diri si anak.

Penyebab utama perilaku yang "sulit" ini bisa karena faktor kurangnya keberanian, kurangnya latihan bersosialisasi dengan lingkungan, bisa juga faktor keturunan. Cara mengurangi rasa kekhawatiran yang berlebihan terhadap lingkungan baru adalah dengan pembiasaan, pemberian pengertian, dan motivasi di samping meningkatkan keberanian secara umum.

Meski sebetulnya ada juga kelebihan dari anak yang "sulit" ini. Mereka adalah anak yang kerasan berada di rumah, selalu dekat dengan ibunya sehingga hubungan batin dengan ibu biasanya amat erat. Orang tua pun akan lebih mudah mengarahkannya. Selain itu, anak tersebut juga akan tumbuh menjadi lebih sabar dan telaten, tidak terlalu lincah. Tetapi perkembangan keberaniannya bisa terhambat bila tidak segera ditangani perilakunya yang ketakutan secara berlebihan terhadap lingkungan baru.

Disadur dari : Mendidik Dengan Cinta, Irawati Istadi

Kamis, 20 September 2012

I Love U : Bukan Hal Tabu

Suatu hari di depan anak2 ngaji di ruang tamu, aku bertanya, "Siapa yg pernah bilang I Love You ke bapak ibunya?" Mereka serentak ketawa. Hwahahaha. Seperti mentertawakan hal yg lucu, absurd, aneh dan ngga masuk akal.
"Lho kok ketawa?" tanyaku heran, baru anak2 berusaha meredam tawa mereka. Lalu aku melanjutkan pertanyaanku, "Siapa yg pernah cium (atau dicium) orang tuanya?"
Mungkin sebenernya mereka juga mau ketawa kali ya, cuman karena respon tertawa pada pertanyaan pertama tadi kurespon aneh, kali ini mereka ngga ketawa lagi. Mereka lebih memilih saling tengok antar temen mereka di kanan kiri. Ada satu dua anak yg bilang pernah, tapi sangat jarang, duluuu hanya pada momen2 tertentu aja.
Lagi2, kata cinta dan kecupan orang tua bagaikan hal aneh bagi mereka.


Aku jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu aku baru saja berbaring, tidur duluan di kamar, sendirian. Lampu sudah kumatikan. Waktu itu Kevin dan Mama nya entah di mana, mungkin masih di ruang tengah atau di kamar belajar, i dunno. Tiba2 cklek, pintu kamar dibuka dan Kevin masuk.
Dia berdiri sejenak di tepi tempat tidur, memandang ke arahku yg "dikira" nya sudah tidur terlelap (padahal masih intip2 dikit). Kevin lalu pelan2 naik ke tempat tidur, mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu mengecup pipiku, "I love you, Papa." bisiknya. Lalu dia turun dan keluar kamar.

Rasa basah di pipiku sepertinya masih terasa sampe sekarang.
Momen yg indah. Alhamdulillah.

***

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin 'Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro' bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro' berkata, "Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallampun melihat kepada Al-'Aqro' lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Sumber : http://lewatmanasqu.blogspot.com

Senin, 10 September 2012

Kewajiban Orang Tua Kepada Anaknya

Tergelitik ingin menulis tentang kewajiban orang tua kepada anaknya. Pertama, sebagai salah satu caraku untuk menambah ilmu, dengan colek-colek mbah gugel tentunya. Kedua, sebagai pengingat bahwa sebagai orang tua aku mempunyai kewajiban pada anak. Ketiga, sebagai cermin instropeksi diri, bahwa ternyata selama ini aku dan misua masih melakukan banyak kesalahan dalam mendidik anak-anak.


Sebenarnya secara garis besar, aku ngeh tentang kewajiban-kewajibannya. Hanya saja, ada beberapa kejadian yang menyentakku, membuatku sedih dan merasa bersalah. Rantai itu masih kuat ternyata. Rantai cara mendidik dengan kemarahan yang ada turun temurun dari orang tuaku dan misua ke kami dan dari kami ke anak-anak. Bukan hanya itu, tapi juga cara mendidik dengan kurangnya contoh alias keteladanan. Maunya instan, semudah membuat bubur atau mie yang tinggal diseduh dengan air panas lalu siap santap. Ironis, karena jelas hal itu tidak mungkin tapi tetap saja diharap. Lagipula, yang instan tentu saja tidak sehat dan tidak enak rasanya bukan? (Bubur bayi instan aja enek, Azzam ga doyan )
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan al-Qur'an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa."
Berdasarkan hadist tersebut, berarti ada tiga kewajiban orang tua pada anaknya, yaitu :


  1. Memberi nama yang baik, karena nama adalah do'a. Dan berkenaan dengan nama Rasulullah   saw bersabda, "Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian." (HR.Abu Dawud)
  2. Mendidiknya dengan Al-Qur'an, ini berat lhooo. Meski ketaqwaan dan kesalehan pribadi belumlah memadai, sebagai orang tua harus bisa mendidik anak-anaknya untuk bisa paham, mengenal, bahkan mencintai agamanya. Ingat kan sabda Rasulullah yang satu ini, "Setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid, iman). Orang tuanyalah yang (potensial) menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Orang tua adalah faktor penting dalam penentuan kesalihan maupun kebejatan anak-anak *lapkeringet.
  3. Menikahkannya bila sudah memasuki usia siap nikah. Apalagi di jaman sekarang, zina ada di mana-mana bahkan dianggap biasa. Membayangkan 10 atau 15 tahun lagi, kedua anak perempuanku sudah menjadi gadis, huuff terbayang ketar-ketirnya menjadi orang tua.Semoga mereka bisa jadi anak sholehah kelak dan dipermudah jodohnya, bisa dapet laki-laki sholeh juga, amiin. Tentang hal ini sesuai dengan firmanNya  "Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya." (QS. An-Nur:32) dan juga sabda Rasulullah "Ada tiga perkara yang tidak boleh dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga, seorang perempuan apabila sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok." (HR. Tirmidzi). Menandakan bahwa sebaiknya kita tidak kuatir tentang rejeki karena Allah akan mempermudahnya seiring dengan ikhtiar yang dilakukan dan lebih baik kita mengutamakan keselamatan iman. Maksudnya ya...nikah usia muda ga apa-apa laah daripada...daripada....*inget buku Kupinang Kau Dengan Hamdalah
Apakah hanya itu saja kewajiban-kewajibannya? Ternyata tidak, masih banyak, dan yang ingin kutekankan dalam memoarku *biaringet* ini adalah perihal keteladanan orang tua dan bagaimana mendidik anak tanpa kemarahan. Dua hal yang menjadi ganjalan terbesarku kini dalam mendidik ketiga buah hatiku. InsyaAllah nanti akan kutulis lebih lanjut, ingin lebih banyak membaca dan belajar, ingin misua juga bisa membaca tulisanku ini nantinya, ingin agar ini bisa bermanfaat.

Oleh : Fatika Nur Cahyani (syifarah.multiply.com)